Pendahuluan: Piutang Bukan Kas
Bagi banyak UMKM, piutang usaha (accounts receivable) adalah sumber daya terbesar, namun juga risiko likuiditas terbesar. Piutang yang besar mungkin mencerminkan penjualan yang kuat, tetapi jika tidak tertagih tepat waktu, hal itu dapat menyebabkan Krisis Arus Kas yang bahkan bisa menenggelamkan perusahaan yang profitabel. Jurnal Keuangan yang disiplin memerlukan analisis piutang yang ketat.
1. Penetapan Kebijakan Kredit yang Jelas
Tentukan secara spesifik batas kredit (jumlah maksimum piutang), tenor pembayaran (misalnya, 30 hari), dan syarat pembayaran (misalnya, diskon 2% untuk pembayaran dalam 10 hari). Kebijakan yang ambigu meningkatkan risiko.
2. Analisis Rasio Perputaran Piutang (Accounts Receivable Turnover Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa cepat piutang diubah menjadi kas.
$$\text{Rasio Perputaran Piutang} = \frac{\text{Penjualan Kredit Bersih}}{\text{Rata-Rata Piutang Usaha}}$$
Aksi: Rasio yang stagnan atau menurun menunjukkan adanya penundaan penagihan. Pemilik UMKM harus membandingkan rasio ini dengan kebijakan tenor kredit mereka (misalnya, 30 hari) untuk menilai efektivitas penagihan.
3. Mitigasi Risiko: Penilaian Kredit Pelanggan
Sebelum memberikan kredit, lakukan penilaian risiko pelanggan:
Riwayat Pembayaran: Prioritaskan pelanggan dengan riwayat pembayaran yang sangat baik.
Diversifikasi Piutang: Jangan biarkan satu pelanggan mendominasi piutang Anda (misalnya, tidak boleh lebih dari 20% dari total piutang) untuk mengurangi risiko jika pelanggan tersebut gagal bayar.
Kesimpulan: Mengelola piutang adalah seni menyeimbangkan penjualan dan risiko. Jurnal Keuangan yang sehat menempatkan penagihan piutang sebagai prioritas utama karena kas adalah oksigen bisnis.
